"SELAMAT DATANG DI BLOG SDN PASIR GOMBONG 01"

TRANSLATE



Wednesday, 12 December 2012

Pengertian Kurikulum, Fungsi Dan Komponennya


Kurikulum sebagai suatu rancangan dalam pendidikan memiliki posisi yang strategis, karena seluruh kegiatan pendidikan bermuara kepada kurikulum. Begitu pentingnya kurikulum sebagaimana sentra kegiatan pendidikan, maka didalam penyusunannya memerlukan landasan atau fondasi yang kuat, melalui pemikiran dan penelitian secara mendalam
Dan pada dasarnya kurikulum merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa komponenKomponen-komponen kurikulum suatu lembaga pendidikan dapat diidentifikasi dengan cara mengkaji buku kurikulum lembaga pendidikan itu. Dari buku kurikulum tersebut kita dapat mengetahui fungsi suatu komponen kurikulum terhadap komponen-komponen kurikulum yang lain.
Melihat bahwa sangat pentingnya komponen-komponen dalam kurikulum maka saya mencoba membuat postingan ini mengambil judul " Pengertian Kurikulum, Fungsi Dan Komponennya"
1.      Pengertian Kurikulum
Kurikulum merupakan seperangkat/sistem rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman untuk menggunakan aktivitas belajar mengajar.
sistem diatas dipergunakan melihat kurikulum itu ada sejumlah komponen yang terkait dan berhubungan satu sama lain untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, dipandang sistem terhadapa kurikulum, artinya kurikulum itu dipandang memiliki sejumlah komponen-komponen yang saling berhubungan, sebagai kesatuan yang bulat untuk mencapai tujuan.
2.      Fungsi Kurikulum
Pada dasarnya kurikulum itu berfungsi sebagai pedoman atau acuan. Bagi guru, kurikulum itu berfungsi sebagai pedoman dalam melaksanakan proses pembelajaran. Bagi sekolah atau pengawas, berfungsi sebagai pedoman dalam melaksanakan supervisi atau pengawasan. Bagi orang tua, kurikulurn itu berfungsi sebagai pedoman dalam membimbing anaknya belajar di rumah. Bagi masyarakat, kurikulum itu berfungsi sebagai pedoman untuk memberikan bantuan bagi terselenggaranya proses pendidikan di sekolah. Bagi siswa itu sendiri, kurikulum berfungsi sebagai suatu pedoman belajar.
Berkaitan dengan fungsi kurikulum bagi siswa sebagai subjek didik, terdapat enam fungsi kurikulum, yaitu:
a.        Fungsi Penyesuaian (the adjustive or adaptive function)
Fungsi penyesuaian mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu mengarahkan siswa agar memiliki sifat well adjusted yaitu mampu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Lingkungan itu sendiri senantiasa mengalami perubahan dan bersifat dinamis. Oleh karena itu, siswa pun harus memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi di lingkungannya.
b.      Fungsi Integrasi (the integrating function)
Fungsi integrasi mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu menghasilkan pribadi-pribadi yang utuh. Siswa pada dasarnya merupakan anggota dan bagian integral dari masyarakat. Oleh karena itu, siswa harus memiliki kepribadian yang dibutuhkan untuk dapat hidup dan berintegrasi dengan masyarakatnya.
c.       Fungsi Diferensiasi (the differentiating function)
Fungsi diferensiasi mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu memberikan pelayanan terhadap perbedaan individu siswa. Setiap siswa memiliki perbedaan, baik dari aspek fisik maupun psikis yang harus dihargai dan dilayani dengan baik.
d.      Fungsi Persiapan (the propaedeutic function)
Fungsi persiapan mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu mempersiapkan siswa untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan berikutnya. Selain itu, kurikulum juga diharapkan dapat mempersiapkan siswa untuk dapat hidup dalam masyarakat seandainya karena sesuatu hal, tidak dapat melanjutkan pendidikannya.
 e.        Fungsi Pemilihan (the selective function)
Fungsi pemilihan mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih program-program belajar yang sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Fungsi pemilihan ini sangat erat hubungannya dengan fungsi diferensiasi, karena pengakuan atas adanya perbedaan individual siswa berarti pula diberinya kesempatan bagi siswatersebut untuk memilih apayang sesuai dengan minat dan kemampuannya. Untuk mewujudkan kedua fungsi tersebut, kurikulum perlu disusun secara lebih luas dan bersifat fleksibel.
f.       Fungsi Diagnostik (the diagnostic function)
Fungsi diagnostik mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu membantu dan mengarahkan siswa untuk dapat memahami dan menerima kekuatan (potensi) dan kelemahan yang dimilikinya. Apabila siswa sudah mampu memahami kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan yang ada pada dirinya, maka diharapkan siswa dapat mengembangkan sendiri potensi kekuatan yang dimilikinya atau memperbaiki kelemahan-kelemahannya.
3.      Komponen Kurikulum
Ada 4 unsur komponen kurikulum yaitu: tujuan, isi (bahan pelajaran), strategi pelaksanaan (proses belajar mengajar), dan penilaian (evaluasi) 
    a.      Komponen Tujuan
Kurikulum merupakan suatu program yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan. Tujuan itulah yang dijadikan arah atau acuan segala kegiatan pendidikan yang dijalankan. Berhasil atau tidaknya program pengajaran di Sekolah dapat diukur dari seberapa jauh dan banyaknya pencapaian tujuan-tujuan tersebut. Dalam setiap kurikulum lembaga pendidikan, pasti dicantumkian tujuan-tujuan pendidikan yang akan atau harus dicapai oleh lembaga pendidikan yang bersangkutan.
Tujuan pendidikan nasional yang merupakan pendidikan pada tataran makroskopik, selanjutnya dijabarkan ke dalam tujuan institusional yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap jenis maupun jenjang sekolah atau satuan pendidikan tertentu.
Dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2007 dikemukakan bahwa tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut.
  1. Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
  2. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
  3. Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.
  4. Tujuan pendidikan institusional tersebut kemudian dijabarkan lagi ke dalam tujuan kurikuler; yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap mata pelajaran yang dikembangkan di setiap sekolah atau satuan pendidikan.
     b.       Komponen Isi/Materi
Isi program kurikulum adalah segala sesuatu yang diberikan kepada anak didik dalam kegiatan belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan. Isi kurikulum meliputi jenis-jenis bidang studi yang diajarkan dan isi program masing-masing bidang studi tersebut. Bidang-bidang studi tersebut disesuaikan dengan jenis, jenjang maupun jalur pendidikan yang ada.
Kriteria yang dapat membantu pada perancangan kurikulum dalam menentukan isi kurikulum. Kriteria itu natara lain:
    Ø  Isi kurikulum harus sesuai, tepat dan bermakna bagi perkembangan siswa.
    Ø  Isi kurikulum harus mencerminkan kenyataan sosial.
    Ø  Isi kurikulum harus mengandung pengetahuan ilmiah yang tahan uji.
    Ø  Isi kurikulum mengandung bahan pelajaran yang jelas.
    Ø  Isi kurikulum dapat menunjanga tercapainya tujuan pendidikan.

Materi kurikulum pada hakekatnya adalah isi kurikulum yang dikembangkan dan disusun dengan prinsip-prinsip sebagai berikut :
  1. Materi kurikulum berupa bahan pelajaran terdiri dari bahan kajian atau topiktopik pelajaran yang dapat dikaji oleh siswa dalam proses pembelajaran.
  2. Mengacu pada pencapaian tujuan setiap satuan pelajaran. 
  3. Diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
    c.       Komponen Strategi
Strategi merujuk pada pendekatan dan metode serta peralatan mengajar yang digunakan dalam pengajaran. Tetapi pada hakikatnya strategi pengajaran tidak hanya terbatas pada hal itu saja. Pembicaraan strategi pengajaran tidak hanya terbatas pada hal itu saja. Pembicaraan strategi pengajaran tergambar dari cara yang ditempuh dalam melaksanakan pengajaan, mengadakan penilaian, pelaksanaan bimbiungan dan mengatur kegiatan, baik yang secara \umum berlaku maupun yang bersifat khusus dalam pengajaran.
Strategi pelaksanaan kurikulum berhubungan dengan bagaimana kurikulum itu dilaksanakan disekolah. Kurikulum merupakan rencana, ide, harapan, yang harus diwujudkan secara nyata disekolah, sehingga mampu mampu mengantarkan anak didik mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum yang baik tidak akan mencapai hasil yang maksimal, jika pelaksanaannya menghasilkan sesuatu yang baik bagi anak didik. Komponen strategi pelaksanaan kurikulum meliputi pengajaran, penilaian, bimbingan dan penyuluhan dan pengaturan kegiatan sekolah.
     d.      Komponen Evaluasi
Evaluasi merupakan salah satu komponen kurikulum. Dalam pengertian terbatas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa tingkat ketercapaian tujuan-tujuan pendidikan yang ingin diwujudkan melalui kurikulum yang bersangkutan. Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa kinerja kurikulum secara keseluruhan ditinjau dari berbagai kriteria. Indikator kinerja yang dievaluasi tidak hanya terbatas pada efektivitas saja, namun juga relevansi, efisiensi, kelaikan (feasibility) program.
Pada bagian lain, dikatakan bahwa luas atau tidaknya suatu program evaluasi kurikulum sebenarnya ditentukan oleh tujuan diadakannya evaluasi kurikulum. Apakah evaluasi tersebut ditujukan untuk mengevaluasi keseluruhan sistem kurikulum atau komponen-komponen tertentu saja dalam sistem kurikulum tersebut. Salah satu komponen kurikulum penting yang perlu dievaluasi adalah berkenaan dengan proses dan hasil belajar siswa.
Evaluasi kurikulum memegang peranan penting, baik untuk penentuan kebijakan pendidikan pada umumnya maupun untuk pengambilan keputusan dalam kurikulum itu sendiri. Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebijakan pendidikan dan para pengembang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijakan pengembangan sistem pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang digunakan.
Hasil – hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru, kepala sekolah dan para pelaksana pendidikan lainnya dalam memahami dan membantu perkembangan peserta didik, memilih bahan pelajaran, memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran, cara penilaian serta fasilitas pendidikan lainnya.
Merupakan suatu komponen kurikulum, karena dengan evaluasi dengan evaluasi dapat di peroleh informasi akurat tentang penyelenggaraan pembelajaran dan keberhasilan belajar siswa.berdasarkan informasi itu dapat dibuat keputusan tentang kurikulum itu sendiri,pembelajaran kesulitan dan upaya bimbingan yang perlu di lakukan.
 REFERENSI
  1.  Wahyudin.2011.Komponen-komponen Kurikulum Online http://whyfaqoth.blogspot.com/2011/07/komponen-komponen-kurikulum-dan.htmlDiakses tanggal 23 Pebruari 
  2. http://www.sutisna.com/pendidikan/kurikulum/fungsi-kurikulum/
»» Baca Selanjutnya...

Peran Guru dalam Membentuk Karakter Anak Bangsa

Pada hakikatnya, manusia memiliki kemampuan untuk meningkatkan kehidupannya, baik untuk meningkatkan pengetahuan, maupun untuk mengembangkan kepribadian dan keterampilannya. Untuk meningkatkan kehidupannya itu, manusia akan selalu berusaha mendapatkan pengalaman-pengalaman baru. Usaha itu disebut dengan pendidikan. Dalam GBHN 1973, dikemukakan bahwa pendidikan merupakan suatu usaha yang disadari untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan manusia yang dilaksanakan di dalam maupun diluar sekolah.
Pendidikan lebih idealnya didapatkan dalam keluarga, karena lingkungan pertama yang didapati oleh anak setelah lahir adalah lingkungan keluarga. Dalam masa tumbuh kembang anak, peran keluarga sangat menentukan keberhasilan anak dalam meningkatkan kemampuan yang ada pada dirinya, baik kemampuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan maupun kemampuan untuk mengembangkan kepribadian. Namun, pendidikan keluarga saja tidak cukup untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Pendidikan luar keluarga juga dibutuhkan dalam meningkatkan kemampuan tersebut, salah satunya adalah pendidikan sekolah. Pendidikan sekolah merupakan salah satu sarana untuk membantu keluarga dalam meningkatkan kemampuan yang ada pada anak. Salah satu unsur terpenting dari pendidikan di sekolah adalah adanya pendidik atau guru.
Pendidik atau guru adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran peserta didik. Peran guru dari segi ilmu adalah memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik. Dengan adanya peran tersebut, guru harus memiliki wawasan kependidikan yang luas dan menguasai berbagai strategi belajar mengajar sehingga pengetahuan dan keterampilan tersebut dengan mudah diberikan kepada peserta didik. Peran ini baru dilihat dari segi ilmu yang diberikan kepada peserta didik, bagaimana dilihat dari segi prilaku dan kepribadian peserta didik. Apakah membentuk prilaku dan kepribadian peserta didik juga merupakan tanggung jawab guru?. Jawabannya tentu ya, karena pada hakikatnya pendidikan di sekolah itu tidak hanya melakukan usaha transfer ilmu dari guru ke peserta didik saja, namun pendidikan sekolah juga melakukan usaha pembentukan prilaku dan pribadi peserta didik. Seorang pendidik atau guru diharapkan tidak sekedar transfer ilmu kepada peserta didik, melainkan menanamkan kepribadian baik kepada peserta didik. Guru belum bisa dikatakan sukses mendidik, jika peserta didik hanya memiliki kecerdasan intelektual saja. Guru dikatakan sukses, jika peserta didiknya memiliki kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Oleh sebab itu, pendidikan sekolah juga diharapkan memiliki program yang bisa dijadikan sebagai sarana pembentukan karakter peserta didik.
Peran guru dalam membentuk karakter peserta didik
Pembentukan karakter anak memang semestinya dilakukan oleh orang tua. Namun, ketika anak berada di sekolah, maka yang menjadi orang tua anak adalah guru. Sehubungan dengan perannya sebagai pembentuk karakter anak di sekolah, maka guru dituntut untuk sungguh-sungguh menjalankan peran tersebut, karena salah membentuk karakter anak akan berakibat fatal bagi kehidupan anak. Dari pernyataan tersebut, dapat dikatakan bahwa guru adalah orang tua kedua dari peserta didik, sehingga ketika peserta didik jauh dari orang tuanya, peserta didik masih mendapat bimbingan dari guru seperti halnya mereka dapatkan dari orang tua.
Pendidikan pancasila dapat dijadikan sebagai sarana dalam pembentukan karakter peserta didik, karena pancasila mengandung nilai-nilai kehidupan yang bisa dijadikan pedoman dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Peserta didik yang pada hakikatnya adalah warga negara Indonesia. Dengan demikian, peserta didik diharapkan memiliki kepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai pancasila sehingga terciptalah generasi bangsa yang cerdas dan bermoral.
Ada beberapa hal yang harus diupayakan oleh guru dalam pembentukan karakter peserta didik sesuai dengan nilai-nilai pancasila, antara lain sebagai berikut: (1) Memperkuat dasar keimanan dan ketakwaan peserta didik. (2) Membiasakan peserta didik untuk berprilaku baik. (3) Menanamkan nilai persatuan kepada peserta didik. (4) Menanamkan sikap toleransi dan tenggang rasa. (5) Membiasakan untuk bermusyawarah dalam menyelasaikan masalah. (6) Menumbuhkan sikap jujur, adil, dan bertanggung jawab kepada peserta didik.
Sebenarnya, upaya pembentukan karakter anak merupakan hal yang tidak mudah dijalankan oleh seorang guru. Guru akan kesulitan dalam membentuk karakter anak, jika tidak ada dukungan dari keluarga dan masyarakat yang ada di lingkungan peserta didik. Pembentukan karakter merupakan tanggung jawab bersama antara guru, keluarga dan masyarakat.
Pendidikan karakter tidak hanya tanggung jawab guru
Keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama bagi anak. Keluarga merupakan dunia anak pertama, yang memberikan sumbangan mental dan fisik terhadap hidupnya. Melalui interaksi dalam keluarga, anak tidak hanya mengenal dirinya dan orang tuanya melainkan juga mengenal kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya.
Orang tua sebagai pendidik betul-betul merupakan peletak dasar kepribadian anak. Dasar kepribadian tersebut akan berperan selama berlangsungnya kehidupan.
Ketika anak sudah melepas masa balitanya, anak tidak lagi hanya berinteraksi dengan keluarganya. Namun, anak sudah mulai berinteraksi dengan lingkungannya. Pada masa itu, orang tua sudah menyerahkannya kepada sekolah. Usaha pendidikan di sekolah merupakan kelanjutan dari pendidikan dalam keluarga. Sekolah merupakan lembaga sosialisasi kedua setelah orang tua, sehingga mempengaruhi pribadi anak dan perkembangan sosialnya.
Selain lingkungan keluarga dan sekolah, lingkungan masyarakat juga membawa pengaruh pada pembentukan karakter anak. Karakter baik yang sudah ditanamkan oleh orang tua dan guru akan rusak, jika anak masuk ke lingkungan masyarakat yang tidak baik dan tidak sehat. Sebaliknya, jika anak berada pada lingkungan masyarakat yang sehat, maka hal itu akan mendorong pembentukan karakter baik pada anak.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan bukan saja tanggung jawab perorangan, tapi tanggung jawab bersama antara orang tua,guru,dan masyarakat.
Tanggung jawab besar maka penghargaan pun harus besar
Guru dikenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, pernyataan ini menunjukkan bahwa jasa seorang guru sangatlah besar dalam mendidik dan mengajar peserta didik agar menjadi generasi yang cerdas dan berkarakter. Guru harus memikul tanggung jawab besar dalam mewujudkan cita-cita bangsa dan menciptakan generasi penerus yang dapat memajukan kehidupan bangsa.
Tanggung jawab yang besar dari seorang guru hendaklah dibalas dengan penghargaan yang besar pula karena memikul tanggung jawab dan amanah yang besar merupakan suatu hal yang sulit dijalani. Ibarat memikul karung beras yang beratnya sekian kilogram, sering kali pundak merasakan sakit yang luar biasa, namun demi hajat orang banyak, seberat apapun beban di pundak akan diusahakan agar sampai ke tempat tujuan. Begitu pula halnya guru, tanggung jawab yang demikian berat harus dipikulnya demi kepentingan orang banyak dan demi terwujudnya tujuan dan cita-cita bangsa. Penghargaan besar hendaklah diberikan kepada para guru yang berjuang untuk kesejahteraan negeri. Penghargaan terhadap guru merupakan wujud dari penghargaan terhadap negri karena jasa guru dapat menciptakan generasi bangsa yang cerdas dan berkarakter.*suci
»» Baca Selanjutnya...

Monday, 10 December 2012

SEJARAH DAN MAKNA DARI HARI IBU

Hari ini tepat tanggal 22 Desember yang juga bertepatan dengan Hari Ibu sedunia, dimana Hari Ibu di Indonesia berbeda dengan “Mother’s Day”, Mother’s Day yang diperingati di negara barat lebih menitikberatkan penghargaan terhadap prestasi domestik kaum perempuan. 

 Sehingga Hari Ibu diperingati sebagai hari untuk memanjakan ibu/istri selama sehari penuh. Hal ini boleh-boleh saja dilakukan, namun ada baiknya seluruh bangsa Indonesia mengetahui makna sesungguhnya Hari Ibu yang penuh dengan makna perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Sejarah ditetapkannya Hari Ibu tidak terlepas dari Kongress Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. 

Kaum perempuan Indonesia terpanggil untuk ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, pada tanggal 22 Desember 1928 diadakan Kongres Perempuan I di Yogyakarta. Dari kongres yang pertama ini, tumbuh kesadaran bahwa perjuangan kaum perempuan tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Untuk mewadahi perjuangan itu, maka dibentuklah sebuah federasi yang mandiri dengan nama Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI) yang kemudian berubah nama pada tahun 1929 menjadi Perikatan Perkumpulan Istri Indonesia (PPII). Sampai pada tahun 1935 federasi ini sudah menunjukan kiprahnya secara luas. Diantaranya ikut serta dalam Badan Pemberantasan Buta Huruf dan Badan Perdagangan Perempuan dan Anak. 

Pada jaman itu, memang sering terjadi kawin paksa, buruh diupah murah, perdagangan perempuan dan masih sedikit sekali perempuan yang berpendidikan. Dan hal inilah yang menjadi titik berat dalam memperjuangkan nasib perempuan. Di tahun yang sama federasi ini menggelar kembali kongres, dan membuahkan sebuah pernyataan penting bahwa PPII “Mewujudkan Perempuan Indonesia sebagai Ibu Bangsa”. Di balik pernyataan ini telah muncul kesadaran mendalam mengenai kehidupan berbangsa pada perempuan. “Ibu bangsa” mengandung arti bahwa perempuan bukan hanya punya peran domestik dan sosial, tetapi perempuan punya peran politik yang berkewajiban menumbuhkan dan mendidik generasi yang utuh. Pada tahun 1938 kembali digelar sebuah kongres dan diputuskan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu dengan moto “Merdeka Melaksanakan Dharma”. Ada dua hal yang dapat kita simak dari keputusan kongres tersebut. Yang pertama Hari Ibu dijadikan momentum untuk menyadarkan kembali tanggung jawab perempuan terhadap masyarakat dan keluarga. 

Dan yang kedua federasi ini menyerukan kaum perempuan untuk bersatu dalam melawan penjajahan. Dinamakan hari Ibu dan bukan hari perempuan, karena Ibu berarti sosok yang menumbuhkan dan mendidikan generasi. Perempuan bukan hanya ibu bagi anak-anaknya tapi ibu bagi bangsanya. Hal ini sejalan dengan deklarasi politiknya. Hari Ibu di Indonesia sangat mengagumkan! Bila kita berpikir sejenak, makna dari Hari Ibu Indonesia sangat dalam. Jika Mother’s Day ala barat memberikan penghargaan prestasi domestik, Hari Ibu Indonesia lebih luas dari itu. Tidak cukup hanya prestasi domestik, tapi yang diserukan adalah prestasi mendidik generasi! Belajar dari Sejarah Sungguh menakjubkan menyimak sejarah perjuangan kaum perempuan memperjuangkan kemerdekaan. Melihat kiprah PPII, kita bisa mengetahui nafas pergerakan ini sejak awal adalah politik dalam rangka memajukan dan melindungi perempuan dan memperjuangkan kemerdekaan bangsa. 

Dalam memajukan kaum perempuan, PPII turut memperjuangkan kesetaraan gender. Mereka memperjuangkan nasib kaum perempuan sebagai kaum yang tertindas, dimana hak-hak asasi perempuan dilecehkan. Bila pada jaman sekarang kaum perempuan hanya peduli pada dirinya sendiri, rasa-rasanya sangat naif. Sebab, sekelompok kaum perempuan Indonesia pada tahun 1935 sudah peduli terhadap nasib kaumnya. Mereka juga yakin dengan pendidikan dapat merubah nasib kaum perempuan. Di jaman dulu, ketika pendidikan menjadi hal yang mewah bagi perempuan, kini kesempatan menimba ilmu terbuka selebar-lebarnya. Sungguh ironi ketika jalan terbentang luas, perempuan di jaman sekarang, enggan mengambil kesempatan itu. Kaum perempuan yang bergabung dalam PPII sudah memiliki pandangan jauh ke depan. Mereka memandang sosok perempuan tidak hanya dalam ruang lingkup kecil rumah tangganya. Tapi jauh lebih luas dari itu, mereka memandang perempuan sebagai sosok yang mampu merubah nasib bangsa. Itulah yang mendasari semangat Hari Ibu 22 Desember bukan hanya menjadi ibu bagi anak-anaknya tapi menjadi ibu bagi bangsa. 

Sungguh besar rasa peduli mereka terhadap perubahan nasib bangsa. Makna sejati dari perjuangan politik telah dicontohkan PPII: berpikir untuk kelangsungan masyarakat, bangsa secara luas dan bukan berpikir hanya untuk diri sendiri. Gerakan dimulai dari perubahan individu, dengan cara menyadarkan kaum perempuan akan potensinya yang besar. Agar perempuan sadar, ia harus terbebas dari tekanan yang menghimpit, dimulailah perjuangan memberantas penindasan kaum perempuan. 

Selain itu kaum perempuan juga harus mendapat pendidikan, pintu wawasan dibuka dengan memberantas buta huruf. Setelah perbaikan individu, tahap berikutnya adalah perbaikan keluarga, masyarakat dan negara. Hal ini tersirat dari semangat mewujudkan perempuan sebagai Ibu Bangsa. Dari kumpulan sosok-sosok perempuan bisa terbentuk kekuatan salah satu sayap penentu perubah bangsa. PPII juga telah membuktikan bahwa mereka adalah kumpulan perempuan yang tidak mudah pasrah dengan keadaan. Mereka adalah kumpulan perempuan yang berusaha merubah nasib bangsa.

Perolehan kemerdekaan bangsa Indonesia membuktikan adanya perjuangan keras untuk merubah nasib. Perubahan itu harus dimulai dari diri kita sendiri. Tanyakanlah pada diri kita masing-masing apa yang telah kita perbuat untuk merubah nasib bangsa! Perempuan adalah separuh dari masyarakat. Bila perempuan tidak berfungsi, maka tidak berfungsi juga separuh dari masyarakat! 

SUMBER:http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/01/sejarah-dan-makna-dari-hari-ibu-sedunia/
»» Baca Selanjutnya...

CONTOH LAPORAN PKP UT

CONTOH LAPORAN PKP UT 2012 IPA KELAS IV

contoh laporan PKP UT diatas mudah-mudahan dapat membantu temen-temen yang sedang menempuh S1 di Universitas Terbuka. sebelum mengunduh file diatas coba anda berikan like dulu ya...jika anda memang menyukainya. hehehe semoga membantu.

»» Baca Selanjutnya...

Sunday, 9 December 2012

UNDUH FILE


KALENDER TH. AJARAN 2012-2013

Download



_________________________________________________________________________

1. CONTOH LAPORAN PKP UT 2012 MAPEL IPA KELAS IV
2. MENPAN 21 TAHUN 2010



_________________________________________________________________________  

»» Baca Selanjutnya...

Saturday, 8 December 2012

PROFIL SEKOLAH

1. NAMA SEKOLAH                     : SD NEGERI PASIR GOMBONG 01
    NSS                                         : 101022209001
    NIS                                           : 104509
    STATUS                                   : Negeri
    Alamat                                      : Kp. Sempu Darussalam Rt. 006/002
                                                       Desa Pasirgombong
                                                              Kecamatan Cikarang Utara
                                                              Kabupaten Bekasi – Prov. Jawa Barat
                                                              Kode Pos : 17530
                                                            
2. TAHUN DIDIRIKAN                    : 1971
3. TAHUN BEROPERASI              : 1971
4. TAHUN TERAKHIR DIREHAB : (Belum pernah direhab sedang/berat)
5. STATUS TANAH                         : Milik Pemerintah
    a. Surat Ijin Bangunan               : -
b. Luas Seluruh Bangunan      : 2150 m2
6. Nomor Rekening Sekolah         :
   a. Nama Bank                         : BANK JABAR BANTEN
   b. Cabang / Unit                      : CIKARANG
    c. Nomor Rekening                    : 0263200117983
    d. Atas Nama                          : SDN PASIRGOMBONG 01
7. KEKURANGAN KELAS
   
Jumlah Siswa  Jumlah Rombel Jumlah Ruang Kelas Jumlah Kekurangan Kelas
472 Siswa 12 6 6
    
7. JUMLAH SISWA DALAM 3 (Tiga) TAHUN TERAKHIR :

Kelas JUMLAH SISWA
2009-2010 2010-2011 2011-2012
I 85 Siswa 86 Siswa 77 Siswa
II 97 Siswa 87 Siswa 82 Siswa
III 68 Siswa 99 Siswa 83 Siswa
IV 78 Siswa 73 Siswa 96 Siswa
V 68 Siswa 81 Siswa 69 Siswa
VI 86 Siswa 67 Siswa 81 Siswa
Jumlah 482 Siswa 493 Siswa 488 Siswa

DATA PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN 

Tingkat Pendidikan Status Guru (Honor)
Guru Tetap PNS Guru Bantu (GBS) GTT Tenaga Kependidikan
SMP - - - 1
SMA - - 3 1
D – 2 1 - - -
D – 3 - - - -
S – 1 5 - 8 -
S – 2 - - - -
S – 3 - - - -
Jumlah 6 - 11 2


»» Baca Selanjutnya...

VIDEO KUNJUNGAN NEGARA POLANDIA


»» Baca Selanjutnya...